tugas TIK SMP1 kaur selatan........!!!!!!!

Jangkrik Pemakan Daging dari Zaman Dinosaurus.

VIVAnews - Sebuah fosil serangga predator dari zaman dinosaurus baru-baru ini ditemukan di lapisan kapur yang terletak di wilayah utara Brazil. Serangga ini adalah serangga karnivora pemakan daging yang berasal dari 100 juta tahun silam.
Nenek moyang jangkrik itu hidup di periode Cretaceous, sesaat sebelum superbenua Gondwana (superbenua yang mencakup benua Afrika, Amerika Selatan, Australia, India, Arab, dan Antartika saat ini) terpecah.
Seperti dikutip dari situs LiveScience, ia berasal dari genus Schizodactylus atau jangkrik berkaki miring. Genus Schizodactylus mencakup jangkrik yang ada saat ini, belalang, serta binatang bernama katydid.
"Nama ini mereka dapatkan sesuai dengan kaki yang mereka miliki yang membuat mereka bisa melenting dan menyokong tubuh mereka di habitat berpasir untuk memburu mangsa mereka," kata Sam Heads, Ketua peneliti yang menemukan fosil ini.
Saat berburu, kata Heads, spesies ini sebenarnya tak menggunakan strategi khusus. Serangga bertubuh tambun ini keluar malam hari menyisir habitat mereka untuk mencari mangsa. "Mereka bisa bergerak dengan cepat bila diperlukan... dan mereka cukup rakus," ujar Sam yang berasal dari University Illinois itu.
Setidaknya, ia memiliki perbedaan dengan jangkrik yang ada saat ini. Dengan panjang sekitar 6 cm dari kepala hingga ke bagian belakang tubuhnya, ia memiliki postur yang agak aneh.
Antenanya lebih panjang dari tubuhnya. Jangkrik ini juga memiliki sayap yang tergulung dan kaki yang tajam seperti sepatu salju. Menurut Heads, ini untuk mendukungnya tetap bisa menjejak di daerah berpasir.
Namun, jangkrik yang sangat agresif ini tak bisa terbang walaupun memiliki sayap. Sayapnya, kata Heads biasanya hanya bisa dimekarkan saat diperlukan. Secara umum, kata Heads, jangkrik ini tidak begitu banyak mengalami evolusi atau mengalami periode 'evolutionary stasis' selama paling tidak 100 juta tahun. (sj)




Mas Adjie Tak Pernah Gangguan Jantung

 

Reza: Mas Adjie Tak Pernah Gangguan Jantung
Walau berstatus sebagai mantan istri, namun Reza Artamevira merasa sangat terpukul atas kepergian Adjie Massaid. Saat kabar duka itu ia terima, Reza langsung menuju ke ruang jenazah dan kemudian ikut menghantar ke rumah Adjie.
"Tadi malem langsung ke ruang jenazah, terus ke rumah. Anak-anak belum tahu. Terus saya ketemu anak-anak, kami bicara. Alhamdulillah anak-anak bisa menerima keadaan," ujar Reza saat ditemui di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Sabtu (5/2).
"Saya sangat berduka. Terima kasih atas dukungan kalian untuk Mas Adjie. Saya begitu terharu, perhatian dan doa dari kalian semua buat Mas Adjie sangat senang. Makasih sudah datang," imbuhnya sambil tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Lebih jauh, Reza menegaskan bahwa ayah kandung kedua putrinya, Zahwa dan Aaliya itu tak pernah punya riwayat penyakit jantung.
"Tidak ada, sama sekali tidak ada. Saya juga kaget, kok tiba-tiba dikabarkan kena serangan jantung. Yang pasti kami juga masih selidiki apakah Mas Adjie kena serangan jantung atau tidak. Mungkin ini kehendak Ilahi robbi," tandasnya.
Dan di saat terakhir, Adjie sempat menitipkan pesan untuk anak-anaknya agar selalu bisa rukun dan bersatu.
"Mas Adjie pesannya hanya untuk anak-anak. Kita harus held together. Biar Zahwa dan Aaliya bisa disiplin selalu, agar keduanya bisa soleh, rajin solat. Targetnya anak-anak tahun ini harus sudah bisa ngaji. Kita saudara yang sangat baik yah," tutupnya. (kpl/hen/bun)

Roy Suryo: Video Tragedi Ahmadiyah Asli

Roy Suryo: Video Tragedi Ahmadiyah Asli
Pakar Telematika yang juga anggota Komisi I DPR RI, Roy Suryo meyakini video tragedi Ahmadiyah di Desa Cikeusik yang berdurasi 01 menit 07 detik dan diupload seseorang berinitial AH ke Youttube benar-benar asli, alias tidak ada rekayasa di dalamnya.
"Itu asli dari pengambilan sebuah HP di lokasi atau di TKP. Dan menurut Undang Undang Informasi Transaksi Elektronika (ITE) pasal (5) ayat (1), itu bisa jadi alat bukti," ujarnya di Jakarta, Selasa (08/02/2011).
Namun, lanjutnya, rasanya tidak elok atau perlu disensor pada beberapa bagian jika memang akan ditayangan oleh media massa.
"Saya sudah meneliti kontinuiti video dan audionya, tidak ada inserting maupun dubbing atmosphere," kata legislator dari Fraksi Partai Demokrat (FPD) yang juga pakar Informasi dan Telekomunikasi (IT) ini.
Lepas dari elok tidaknya video itu ditayangkan melalui media massa, Roy Suryo menegaskan, pihaknya tidak menghendaki aksi-aksi kekerasan seperti itu terulang lagi.
"Kita ini negara cinta damai dan punya manusia-manusia beradab, berketuhanan dan berpancasila. Kok teganya sekarang mulai banyak yang melupakan jatidiri seperti itu," tanyanya.
Karenanya, Roy Suryo dan teman-teman di Komisi I DPR RI mendesak aparat keamanan untuk membongkar otak pelaku kekerasan atas nama agama di mana-mana, baik itu menyangkut 'tragedi Ahmadiyah', maupun pembakaran gereja-gereja di Temanggung. (antara/dar)